Pengunjung Blog

Jumat, 05 November 2010

Surat keluarga

Salam damai dalam kasih Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosep.

Banyaknya tantangan dalam perkawinan dan hidup berkeluarga memanggil banyak orang untuk membuka mata lebar-lebar kepada semua usaha dan kemungkinan yang dapat memberikan pertolongan kepada pasangan yang sedang berada dalam kesukaran membangun relasi sebagai pasangan. Ada banyak orang maupun kelompok berdasarkan kesanggupannya masing-masing bisa ikut menolong banyak pasangan yang berjuang untuk mempertahkan perkawinan. Dalam banyak kesempatan saya selalu menegaskan, bahwa perkawinan yang bahagia merupakan buah dari usaha bahkan membutuhkan pengorbanan. Perkawinan yang bahagia bukan pertama-tama terletak pada perayaan perkawinan melainkan dalam perjalanan perkawinan itu sendiri. Di dalam perjalanan perkawinan, pasangan menempuh dinamika yang tak selalu berjalan mulus.

Saat-saat tertentu kebersamaan dengan pasangan merupakan hal yang amat dirindukan. Tetapi dapat terjadi pada saat tertentu kehadiran pasangan bisa dirasakan menganggu. Seorang pekerja kantoran yang begitu konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaannya – yang barangkali karena tuntutan target akan merasa terganggu oleh keinginan pasangan untuk berlibur atau makan bersama. Kenyataan-kenyataan tersebut menggambarkan jatuh-bangunnya usaha dalam membangun perkawinan yang bahagia. Relasi suami-isteri bisa menjadi rusak karena prasangka dan hilangnya harapan terhadap pasangan. Dalam situasi seperti dibutuhkan kehadiran orang lain, pihak ketiga yang bisa menemani pasangan untuk bersama berusaha memulihkan kembali relasi yang terganggu oleh karena prasangka. Kehadiran pihak ketiga tentu tak bermaksud mencari siapa salah dan siapa benar, melainkan untuk menolong dan mendampingi pasangan berusaha bersama-sama menjaga, memelihara, dan akhirnya memberikan makna terhadap perkawinan mereka.

Oleh karena perkawinan yang membutuhkan pendampingan sangat banyak, maka dalam karya mendampingi keluarga-keluarga diibutuhkan keterlibatan banyak orang. Salah satunya yang bisa saya sebutkan disini ialah pentingnya peran saksi perkawinan. Barangkali ada pasangan yang melihat peran saksi perkawinan hanya demi formalitas. Memang, keabsahan sebuah perkawinan menurut ketentuan Gereja, juga ditentukan oleh adanya dua orang saksi (bdk. Kan 1108 KHK 1983). Tetapi secara pastoral keberadaan saksi perkawinan diharapkan ikut mendampingi pasangan yang melangsungkan perkawinan. Dengan demikian saksi perkawinan tidak hanya sekedar memenuhi tuntutan demi formalnya perkawinan, tetapi juga ikut bertanggungjawab dalam menemani pasangan menempuh perjalanan perkawinan. Maka sangat diharapkan, bahwa yang menjadi saksi perkawinan ialah orang yang memang secara pribadi dekat atau kenal dengan pasangan.

Peran dan tanggungjawab saksi perkawinan meluas, tidak hanya pada pemenuhan permintaan karena Gereja mewajibkan, melainkan pada keikutsertaan dalam mendampingi dan menemani mereka yang menikah dalam hidup perkawinan. Itu berarti, ada dua peran saksi perkawinan. Pertama, pada saat perayaan perkawinan dilangsungkan. Peran ini bisa saya sebut sebagai peran formal atau peran hukum. Kedua, peran moral. Peran ini saya sebut juga sebagai peran pendampingan.

Terkait dengan peran yang pertama, sekali lagi, keberadaan saksi perkawinan memang sangat diperlukan demi keabsahan perkawinan yang dilangsungkan. Sebab perkawinan yang sah menurut Gereja ialah perkawinan yang dilangsungkan di hadapan pelayan resmi Gereja dengan dua orang saksi. Sedangkan terkait dengan peran yang kedua, keberadaan saksi perkawinan ikut serta dalam mendukung pasangan yang melangsungkan perkawinan. Saksi perkawinan membesarkan hati pada saat pasangan mengalami kesulitan. Dalam hal ini saksi perkawinan ikut membantu pasangan dalam perjalanan perkawinan untuk memaknai perkawinan mereka dalam terang iman.

Pemaaf

Dimana ada kebesaran cinta Disanalah selalu terbentang harapan...

Lima belas tahun usia pernikahan Sugeng dan Ratna, setudaknya satu sama lain sudah saling mengerti sifat pasangannya masing-masing. Mareka hidup dalam keluarga yang harmonis, dengan dua anak, Dea  dan Noah. Secara ekonomi mereka sudah mapan. Relasi  sosial dengan lingkungan juga berjalan dengan baik dan wajar. Setiap permasalahan yang ada selalu dapat merka selesaikan dengan baik dan penuh pengertian.

Suatu ketika datanglah tsunami menghantam  bahtera rumah tangga mereka.  Entah kerasukan gendruwo cinta dari mana, Ratna, terjerat dengan cinta masa lalunya.  Hal tersebut diawali dengan kegiatan reuni teman SMA-nya, maka Cinta Lama Bersemi kembali. Retno tak dapat lari dari jeratan cinta masa mudanya dahulu dengan Baskoro. Retno terhanyut dalam kenangan masa lalunya.Padahal Baskoropun sudah tidak sendiri lagi,.. Hari demi hari dilalui Retno dan Baskoro penuh dengan gejolak asmara yang menggairahkan.

Setelah enam bulan menjalani cinta terlarang, akhirnya Sugeng mengetahuinya. Bagai suara petir yang menggelegar di malam yang sepi,...geram, marah, emosi bergolak di dalam dadanya. Singkat cerita,... akhirnya Ratna dan Baskoro meninggalkan rumahtangga mereka !!!

Beruntung Sugeng  dapat menyikapi situasi tersebut dengan bijak, sabar dan berpasrah diri. Ia tidak terlarut dalam kekecewaan dan amarah,.. tapi ia menikapi semua itu sebagai sebagian dari episode hidupnya. Sikap ini tentu saja membutuhkan kelapangan hati yang luar biasa...luar biasa...
"Kalau kamu memang sudah yakin dengan keputusanmu,... silakan jalani dengan bertanggung jawab...jangan sampai kamu mengulanginya di waktu mendatang...", begitu salam perpisahaannya kepada Ratna. "Saya menyadari sepenuhnya, bahwa kamu membutuhkan yang tidak bisa saya berikan...", karena memang Sugeng sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan biologis istrinya tiga tahun terakhir.

Kehidupan terus berjalan,..waktu tak pernah berhenti, terus mendampingi setiap peristiwa kehidupan dengan setia. Ternyata  perkawinan Ratna dan Baskoro kandas. Ratna ditinggalkan Baskoro yang menkah lagi dengan salah satu staf di kantornya. Enam bulan Ratna hidup dalam kedukaaan dan penyesalan,...akankah Sugeng dan anak2 mau menerimanya kembali ? Ia begitu menyesali keputusannya 3 tahun yang lalu. Ia rindu kembali,...apakah Sugeng  dan anak2 mau menerimanya kembali ? Akhirnya ia kuatkan hatinya untuk kembali kepada Sugeng, dan kedua anaknya Dea dan Noa.

Ratnapun datang bersimpuh di hadapan Sugeng, menyatakan rasa sesalnya,
" Mas, saya menyadari sekarang, bahwa saya telah melakuka kesalahan yang tak termaafkan dalam ukuran manusia. Saya sungguh menyesali perbuatan saya dan saya siap menerima perlakuan apa saja darimu, demi  Dea dan Noah dan demi kamu agar engkau sudi menerimaku kembali dengan segala kesalahanku". Sugeng menyadari sepenuhnya, sebagai laki2, harga dirinya tercabik2. Sakit hati yang begitu menyiksanya. Namun dengan tenang Sugeng menjawab,
"Setiap manusia pasti berbuat salah, saya dapat memahami dan mengerti sepenuhnya, tidak ada yang perlu dimaafkan, karena akupun juga banyak berbuat salah selama kita berumah tangga dan kamu selalu memaafkan aku, selalu mau mengerti keadaanku, kembalilah kepadaku, kepada anak2mu, kita mulai lembaran baru. Yang sudah terjadi tidak bisa kita ubah, tapi yang akan terjadi bisa kita rencanakan dengan lebih hati2"

Dear all,... kelapangan hati seperti Sugeng bukanlah hal yang mudah kita terapkan dalam kehidupan seharihari,...tapi itu bisa.  Setiap manusia pasti mempunyai kesalahan,... dan setiap kesalahan tidak ada yang tidak termaafkan. Ketika kita tidak memberikan ruang untuk  sebuah permintaaan maaf, ketika itu pula kita menutup hati kita terhadap kehadiran sebuah Cinta, dan kita memberikan tempat kepada dendam menjadi spirit hidup kita. Biarkan cinta berkartya di dalam hati kita,....