Pengunjung Blog

Sabtu, 16 Oktober 2010

Bacaan Hari Ini, Minggu, 17 Oktober 2010

-berdoa dengan tidak jemu-jemu(Luk 18:1-8)

Pw St. Ignatius dr Antiokhia
Bacaan I: Kel 17:8-13
Mazmur : 121:1-2.3-4.5-6.7-8; R:2
Bacaan I: 2Tim 3:14–4:2
Bacaan Injil : Luk 18:1-8

""Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”(Luk 18:1-8)

Saudara-saudari terkasih dalam Nama Tuhan kita Yesus Kristus,

Di kisahkan ada seorang wanita yang punya sebuah permohonan.Ia ingin pasangan hidup yang seiman.Mendengar di gerejanya akan diadakan Novena 3 Salam Maria selama 9 kali berturut-turut,sang ibu antusias untuk mengikuti.Dari awal sang ibu selalu mengikuti setiap prosesi dengan hikmat,bahkan sang ibu sengaja datang 1 jam lebih awal agar bisa berdoa Rosario di depan patung Bunda Maria.

Hujan deras tidak menjadi penghalang bagi sang ibu untuk tetap dapat mengikuti Novena. Bahkan ia rela mengambil cuti agar novenanya tidak "bolong." Menjelang akhir Novena,yaitu pada hari ke 9,permohonan sang ibu tidak juga mendapatkan hasil.Sang ibu menjadi sedih dan kecewa.Semenjak itu,ia jadi malas rosario dan berdoa.

Saudara-saudari terkasih,

Berdoa mudah kalau sering dikabulkan. Berdoa lebih sulit bila jarang dikabulkan dan hidup terasa berat. Bunda Teresa adalah orang kudus yang terus berdoa meskipun sering doanya seperti tidak didengarkan Tuhan. Laksana berdoa di malam gulita yang tetap gelap. Hebatnya, Bunda Teresa tidak jemu-jemunya berdoa. Tidak ada kata ”berhenti berdoa”.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita rajin berdoa hanya kalau doa-doa kita banyak dikabulkan? Apakah kita rajin berdoa hanya kalau hidup kita lancar dan bahagia? Ataukah kita tetap berdoa dengan gembira tanpa henti meskipun banyak yang tidak dikabulkan? Ataukah kita tetap rajin berdoa meskipun hidup kita tetap saja susah dan menderita?

marilah berdoa:Tuhan Yesus, ajarilah aku berdoa dengan tidak jemu-jemunya. Ajarilah aku berdoa karena aku mau berkomunikasi dengan Engkau dari hati ke hati. Ajarilah aku untuk tetap berdoa meskipun doa-doaku kadang tidak dikabulkan. Doa ini kami persembahkan Demi Yesus Kristus,Putera-Mu dan pengantara kami,yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam Roh Kudus,sepanjang segala masa.Amin

"Marilah pergi. Kita diutus."
"Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam."(Mzm 121:1-2,3-4,5,6)

sumber:ziarah batin 2010 dan Oase rohani
A.M.Adi Normawan

Jumat, 15 Oktober 2010

Mengenal Tokoh

Richardus Kardis Sandjaja, Pr (1914-1948)

Romo Sandjaja martir pertama di INDONESIA.



Sandjaja dilahirkan di desa Sedan, Muntilan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1914. Ayahnya bernama Willem Kromosendjojo, bekerja sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik yang dipimpin oleh missionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama Richarda Kasijah, dari keluarga katolik yang baik. Sandjaja mempunyai dua kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Salah satu dari kakak perempuannya menjadi suster Fransiskan.

Sejak masa kanak-kanak Sandjaja sangat terkenal disekolahnya karena kepandaiannya. Dia masuk di SD Katholik yang dipimpin oleh para Bruder. Karena kecerdasannya, maka tidak mengherankan bahwa beliau lebih suka belajar dari pada bermain dalam hari-hari senggangnya. Beliau seorang yang berkepribadian sederhana, rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Beliau sangat suka memperhatikan hidup doanya, rajin mengikuti misa harian di gereja, dan sering mengunjungi gua Maria di Desa Sendangsono, untuk berdoa dan berefleksi. Ketertarikannya untuk menjadi imam berkembang ketika beliau masih di SD.

Beliau diterima di seminari setelah dia lulus dari SMA. Beliau hidup dalam kesucian yang luar biasa selama di seminari. Beliau ditahbiskan sebagai imam diosesan pada tanggal 13 Januari 1943 di Muntilan. Setelah pentahbisannya, beliau terpilih sebagai pastor paroki di Muntilan. Beliau mendapat banyak kesulitan karena situasi perang, namun demikian beliau sangat kuat dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi, dan dengan alasan itulah beliau dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai pastor paroki yang sangat bijaksana dan disukai oleh seluruh umat paroki Muntilan. Untuk beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara perang yang tidak senang dengan karya missi. Walau begitu, beliau tetap tabah dan disemangati oleh umat parokinya untuk memperbaiki dan membangun kembali gereja mereka. Bagi umat parokinya, beliau selalu menunjukan kesederhanaannya, bijaksana dan memperhatikan sesama dalam seluruh hidupnya sebagai seorang pastor paroki. Meskipun banyak kesulitan, beliau dapat menjaga hubungan baik dengan pemerintah resmi.

Selama penjajahan Jepang tahun 1942 - 1945, banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Dalam situasi seperti itu, Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa untuk keselamatan sampai keadaan membaik. Selanjutnya, beliau dapat kembali ke parokinya untuk membangun kembali gerejanya. Kemudian, beliau mendapat tugas baru untuk mengajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta, dan untuk membantu paroki tetangga di Magelang. Pada tahun 1948 beliau terpilih sebagai guru dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan. Beliau selalu menunjukkan sikap kesediaannya untuk membantu Gereja dimanapun dan bagaimanapun kondisinya, dan beliau melakukannya dengan baik.

Pada tanggal 20 Desember 1948, beliau menyelamatkan hidup teman imamnya dan seminaris dalam Seminarinya dengan menyerahkan dirinya kepada kelompok Muslim ekstrimis yang tidak menyukai umat Kristen dan para missionaris. Pemuda kauman Muntilan merampok dan membakar sebagian dari komplek persekolahan di Muntilan. Delapan pemuda itu yang belakangan diketahui berasal dari kelompok orang-orang Hisbullah itu menculik imam dan frater. Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.

Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka disiksa dengan kejam, lalu dibunuh secara keji oleh pembrontak Muslim di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan. Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Dengan cepat Bapak Willem dan anaknya, Yohanes Redja pergi ke tempat tersebut. Mereka menyaksikan jenazah Frater Bouwens telanjang bulat dan hidungnya disumbat dengan kayu runcing. Mukanya rusak berlumuran darah, sementara badannya biru memar bekas pukulan-pukulan hebat. Romo Sandjaja hanya mengenakan kaos dalam. Kedua kakinya dari bawah hingga ke atas penuh luka-luka kecil bekas tusukan upet (puntung api) Bahu dan badannya membiru bekas pukulan. Tengkuk dan dahinya berlubang tertembus peluru pistol. Sangat mengerikan!

Berat sekali penganiayaan bengis yang dilakukan oleh gerombolan yang tidak bertanggung jawab terhadap pencinta Tuhan ini. Jenazah mereka disapu dengan handuk kemudian dikubur di situ juga. Makamnya tidak dalam. Pemakaman ini dilakukan sekedar untuk menghilangkan jejak saja. Dua rohaniwan itu menjadi korban fanatisme yang sempit. Jenazah keduanya lalu dimakamkan kembali secara besar-besaran pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kerkhop Muntilan. Dengan khidmat peti-peti mayat diusung oleh pramuka dan anggota-anggota Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926.

Beliau menjadi salah satu martir pertama yang sangat terkenal di Pulau Jawa. Bagi kita, Sandjaja telah menjadi symbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, kesetiaan dan Kasih abadi Kristus Tuhan Kita.