Pengunjung Blog

Senin, 25 Oktober 2010

Inspirasi

Membangun Sikap Pasrah

Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan dari sebuah pasangan yang saling mencintai. Anak itu adalah buah hati mereka satu-satunya. Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yang terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor, maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Karena kesibukannya di dapur, istrinya sama sekali melupakan hal tersebut.

Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut, anak itu memakan semua obat yang keras itu. Padahal untuk orang dewasa saja harus meminumnya dengan dosis kecil saja. Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi tidak tertolong. Ia merasa ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia memandang istrinya dan mengucapkan 3 kata, “Saya Bersamamu, Sayang”.

Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka itu adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri. Lagipula seandainya dia menyempatkan diri untuk menutup dan menyimpan botol tersebut, peristiwa nahas itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang diperlukan saat ini adalah penghiburan dari sang suami. Tiga kata itulah yang menjadi hiburan yang sangat bernilai tinggi.

Sahabat, manusia sering mencari-cari kesalahan sesamanya. Tidak ada kesalahan pun orang mencari-carinya supaya ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menyalahkan sesamanya. Padahal setiap orang itu pasti punya kesalahan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kisah tadi menunjukkan kepada kita bahwa mencari-cari kesalahan orang lain itu tidak berguna. Hal itu hanyalah cara untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. Sang suami tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Ia tidak ingin istrinya hidup dalam bayang-bayang kesalahan yang tidak sengaja dibuatnya.

Untuk itu, dibutuhkan suatu sikap pasrah kepada kehendak Tuhan. Orang mesti berani membiarkan kehendak Tuhan terjadi atas hidupnya. Tuhan memang tidak menghendaki hidup orang berakhir secara tragis. Namun adalah fakta bahwa manusia akan menemukan ajalnya di dunia ini. Karena itu, yang dilakukan adalah kita berusaha untuk menghadapi hidup ini dengan hati yang lapang. Untuk itu, kita butuh sikap penyerahan diri yang mendalam kepada Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita mesti tetap membangun suatu penyerahan diri ini. Mengapa? Karena sikap inilah yang mampu membantu kita untuk keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi. Kita dapat menemukan kebahagiaan dan damai dalam hidup ini berkat penyerahan diri yang mendalam kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Bacaan Hari Ini, Senin, 25 Oktober 2010

Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau...(Luk 13:10-17)

Senin, 25 Oktober 2010
St. Yohanes Ston; Sta. Margaretha; St. Gaudensius; St. Krisantus dan Daria
Bacaan I : Ef 4:32–5:8
Mazmur : 1:1-2.3.4.6; R: Ef 5:1
Bacaan Injil : Luk 13:10-17

"Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: ”Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: ”Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: ”Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya."(Luk 13:10-17)
Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus,

Pastor Johannes adalah seorang pastor yang murah hati. Ia suka menolong orang yang meminta bantuannya. Namun, sering kali juga ia ditipu. Akan tetapi, hal itu tidak mengurangi kemurahan hati Pastor Johannes untuk menolong orang-orang. ”Biarlah beberapa orang menipu, namun yang sungguh membutuhkan jangan sampai kita tolak,” katanya.

Apakah kita murah hati dalam menolong orang yang membutuhkan bantuan kita? Bila kita ada di paroki atau organisasi, apakah bantuan selalu harus sesuai prosedur? Misalnya, ada yang membutuhkan bantuan, apakah keputusan membantu harus menunggu rapat yang akan datang yang masih lama? Yesus menasihati kita hari ini untuk menolong orang lain dengan tulus hati, bukan karena terikat aturan atau tugas pekerjaan, tetapi lebih karena kewajiban cinta kasih. jangan sampai kita begitu terikat prosedur dan aturan sehingga tidak sanggup memberi pertolongan?

marilah berdoa:Ya Allah, ajarilah aku untuk menolong orang dengan murah hati. Jangan sampai aku menumpulkan hati dengan alasan apa pun. Amin.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

"tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."(Mzm 1:1-3)

sumber:ziarah batin 2010 dan Oase rohani

salam hangat,
A.M.Adi Normawan